Thalaq
Muwattha Malik | Hadits No. : 1099
و حَدَّثَنِي عَنْ مَالِك عَنْ نَافِعٍ عَنْ صَفِيَّةَ بِنْتِ أَبِي عُبَيْدٍ عَنْ عَائِشَةَ وَحَفْصَةَ زَوْجَيْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَأَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَحِلُّ لِامْرَأَةٍ تُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ أَنْ تُحِدَّ عَلَى مَيْتٍ فَوْقَ ثَلَاثِ لَيَالٍ إِلَّا عَلَى زَوْجٍ
Terjemahan: Telah menceritakan kepadaku dari Malik dari {Nafi’} dari {Shafiyah binti Abu ‘Ubaid} dari {‘Aisyah} dan {Hafshah} isteri Nabi saw., bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Tidak halal bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari Akhir berkabung atas kematian seseorang melebihi tiga hari, kecuali untuk suaminya.”
Muwattha Malik | Hadits No. : 1100
و حَدَّثَنِي عَنْ مَالِك عَنْ نَافِعٍ أَنَّ صَفِيَّةَ بِنْتَ أَبِي عُبَيْدٍاشْتَكَتْ عَيْنَيْهَا وَهِيَ حَادٌّ عَلَى زَوْجِهَا عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ فَلَمْ تَكْتَحِلْ حَتَّى كَادَتْ عَيْنَاهَا تَرْمَصَانِ
Terjemahan: Telah menceritakan kepadaku dari Malik dari {Nafi’} bahwa {Shafiyyah binti Abu ‘Ubaid} menderita sakit pada kedua matanya, sementara saat itu ia sedang berkabung karena kematian suaminya, Abdullah bin Umar, sehingga ia tidak mengenakan celak. Sehingga kedua matanya hampir tertutup oleh kotoran.”
Muwattha Malik | Hadits No. : 1009
و حَدَّثَنِي عَنْ مَالِك عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ عَنْ أَبِي بَكْرِ بْنِ حَزْمٍ أَنَّ عُمَرَ بْنَ عَبْدِ الْعَزِيزِقَالَ لَهُ الْبَتَّةُ مَا يَقُولُ النَّاسُ فِيهَا قَالَ أَبُو بَكْرٍ فَقُلْتُ لَهُ كَانَ أَبَانُ بْنُ عُثْمَانَ يَجْعَلُهَا وَاحِدَةً فَقَالَ عُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ لَوْ كَانَ الطَّلَاقُ أَلْفًا مَا أَبْقَتْ الْبَتَّةُ مِنْهَا شَيْئًا مَنْ قَالَ الْبَتَّةَ فَقَدْ رَمَى الْغَايَةَ الْقُصْوَى
Terjemahan: Telah menceritakan kepadaku dari Malik dari {Yahya bin Sa’id} dari {Abu Bakar bin Hazm} bahwa {Umar bin Abdul Aziz} berkata kepadanya “Apa yang dikatakan orang-orang tentang talaq ba’in?” Abu bakar menjawab ” {Aban bin Utsman} menganggapnya sebagai talak satu.” Umar bin Abdul Aziz pun berkata “Kalau seandainya talak dibolehkan sampai seribu kali, niscaya tidak akan tersisa talak bain sedikitpun. Barangsiapa mengatakan talak ba’in, berarti dia telah sampai pada batas akhir.”
Muwattha Malik | Hadits No. : 1010
و حَدَّثَنِي عَنْ مَالِك عَنْ ابْنِ شِهَابٍ أَنَّ مَرْوَانَ بْنَ الْحَكَمِكَانَ يَقْضِي فِي الَّذِي يُطَلِّقُ امْرَأَتَهُ الْبَتَّةَ أَنَّهَا ثَلَاثُ تَطْلِيقَاتٍقَالَ مَالِك وَهَذَا أَحَبُّ مَا سَمِعْتُ إِلَيَّ فِي ذَلِكَ
Terjemahan: Telah menceritakan kepadaku dari Malik dari {Ibnu Syihab} bahwa {Marwan bin Al Hakam} memberi putusan bahwa suami yang menceraikan isterinya dengan talak ba’in, maka itu adalah talak tiga. Malik berkata “Ini adalah pendapat yang paling saya sukai.”
Muwattha Malik | Hadits No. : 1011
و حَدَّثَنِي عَنْ مَالِك عَنْ نَافِعٍ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَكَانَ يَقُولُ فِي الْخَلِيَّةِ وَالْبَرِيَّةِ إِنَّهَا ثَلَاثُ تَطْلِيقَاتٍ كُلُّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا
Terjemahan: Telah menceritakan kepadaku dari Malik dari {Nafi’} bahwa {Abdullah bin Umar} mengatakan tentang khaliyyah dan bariyyah, “Kedua-duanya adalah talak tiga.”
Muwattha Malik | Hadits No. : 1012
و حَدَّثَنِي عَنْ مَالِك عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ عَنْ الْقَاسِمِ بْنِ مُحَمَّدٍأَنَّ رَجُلًا كَانَتْ تَحْتَهُ وَلِيدَةٌ لِقَوْمٍ فَقَالَ لِأَهْلِهَا شَأْنَكُمْ بِهَا فَرَأَى النَّاسُ أَنَّهَا تَطْلِيقَةٌ وَاحِدَةٌ
Terjemahan: Telah menceritakan kepadaku dari Malik dari {Yahya bin Sa’id} dari {Al Qasim bin Muhammad} berkata, “Seorang lelaki yang mempunyai isteri dari suatu kaum. Kemudian dia berkata kepada keluarga isteri “Tentang dia terserah kalian.” Maka orang-orang menganggap itu sebagai talak satu.
Muwattha Malik | Hadits No. : 1013
و حَدَّثَنِي عَنْ مَالِك أَنَّهُ سَمِعَ ابْنَ شِهَابٍيَقُولُ فِي الرَّجُلِ يَقُولُ لِامْرَأَتِهِ بَرِئْتِ مِنِّي وَبَرِئْتُ مِنْكِ إِنَّهَا ثَلَاثُ تَطْلِيقَاتٍ بِمَنْزِلَةِ الْبَتَّةِ
Terjemahan: Telah menceritakan kepadaku dari Malik bahwa ia mendengar {Ibnu Syihab} berkata tentang seorang suami yang berkata kepada isterinya ‘Kamu berlepas diri dariku dan saya berlepas diri darimu’, ucapan itu kedudukannya sama dengan talak tiga.”
Muwattha Malik | Hadits No. : 1014
و حَدَّثَنِي عَنْ مَالِك عَنْ نَافِعٍ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ كَانَ يَقُولُإِذَا مَلَّكَ الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ أَمْرَهَا فَالْقَضَاءُ مَا قَضَتْ بِهِ إِلَّا أَنْ يُنْكِرَ عَلَيْهَا وَيَقُولُ لَمْ أُرِدْ إِلَّا وَاحِدَةً فَيَحْلِفُ عَلَى ذَلِكَ وَيَكُونُ أَمْلَكَ بِهَا مَا كَانَتْ فِي عِدَّتِهَا
Terjemahan: Telah menceritakan kepadaku dari Malik dari {Nafi’} bahwa {Abdullah bin Umar} berkata “Jika seorang suami menyerahkan urusannya kepada isterinya, maka keputusan akhirnya ada di tangan isteri. Kecuali bila suami mengingkarinya (ucapannya) dan berkata ‘Saya tidak menginginkannya kecuali talak satu, ‘ maka ia wajib bersumpah hingga ia tetap berhak atas diri siterinya selama masih dalam masa iddah.”
Muwattha Malik | Hadits No. : 1015
حَدَّثَنِي يَحْيَى عَنْ مَالِك عَنْ سَعِيدِ بْنِ سُلَيْمَانَ بْنِ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ عَنْ خَارِجَةَ بْنِ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ أَنَّهُ أَخْبَرَهُ أَنَّهُ كَانَ جَالِسًا عِنْدَ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍفَأَتَاهُ مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي عَتِيقٍ وَعَيْنَاهُ تَدْمَعَانِ فَقَالَ لَهُ زَيْدٌ مَا شَأْنُكَ فَقَالَ مَلَّكْتُ امْرَأَتِي أَمْرَهَا فَفَارَقَتْنِي فَقَالَ لَهُ زَيْدٌ مَا حَمَلَكَ عَلَى ذَلِكَ قَالَ الْقَدَرُ فَقَالَ زَيْدٌ ارْتَجِعْهَا إِنْ شِئْتَ فَإِنَّمَا هِيَ وَاحِدَةٌ وَأَنْتَ أَمْلَكُ بِهَا
Terjemahan: Telah menceritakan kepadaku Yahya dari Malik dari {Sa’id bin Sulaiman bin Zaid bin Tsabit} dari {Kharijah bin Zaid bin Tsabit} bahwa ia mengabarkan kepadanya, bahwa ia pernah duduk-duduk bersama {Zaid bin Tsabit}, tiba-tiba Muhammad bin Abu ‘Atiq menemuinya dengan kedua mata meneteskan air mata. Zaid lalu bertanya kepadanya “Ada apa denganmu?” Dia menjawab “Aku telah menyerahkan keputusan (talak) kepada isteriku, dan ia memutuskan untuk berpisah dariku.” Zaid bertanya lagi “Kenapa kamu lakukan hal itu?” ia menjawab, “Karena faktor ekonomi.” Zaid berkata “Jika mau, ruju’lah ia. Karena yang demikian itu hanya talak satu, dan kamu lebih berhak atas dirinya.”
Muwattha Malik | Hadits No. : 1016
و حَدَّثَنِي عَنْ مَالِك عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ الْقَاسِمِ عَنْ أَبِيهِأَنَّ رَجُلًا مِنْ ثَقِيفٍ مَلَّكَ امْرَأَتَهُ أَمْرَهَا فَقَالَتْ أَنْتَ الطَّلَاقُ فَسَكَتَ ثُمَّ قَالَتْ أَنْتَ الطَّلَاقُ فَقَالَ بِفِيكِ الْحَجَرُ ثُمَّ قَالَتْ أَنْتَ الطَّلَاقُ فَقَالَ بِفَاكِ الْحَجَرُ فَاخْتَصَمَا إِلَى مَرْوَانَ بْنِ الْحَكَمِ فَاسْتَحْلَفَهُ مَا مَلَّكَهَا إِلَّا وَاحِدَةً وَرَدَّهَا إِلَيْهِقَالَ مَالِك قَالَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ فَكَانَ الْقَاسِمُ يُعْجِبُهُ هَذَا الْقَضَاءُ وَيَرَاهُ أَحْسَنَ مَا سَمِعَ فِي ذَلِكَ قَالَ مَالِك وَهَذَا أَحْسَنُ مَا سَمِعْتُ فِي ذَلِكَ وَأَحَبُّهُ إِلَيَّ
Terjemahan: Telah menceritakan kepadaku dari Malik dari {Abdurrahman bin Al Qasim} dari {Bapaknya} ia berkata, “Seorang lelaki dari suku Tsaqif menyerahkan keputusan talak kepada isterinya. Isterinya llau berkata “Kamu saya ceraikan.” laki-laki dari Tsaqif itu terdiam. Isterinya berkata lagi, “Kamu saya ceraikan.” laki-laki itu berkata “Di mulutmu ada batu.” Kemudian isterinya berkata lagi, “Kamu saya ceraikan.” laki-laki itu berkata “Di mulutmu ada batu.” Lalu keduanya mengadu dan meminta Marwan bin Hakam untuk memutuskan perselisihan mereka. {Marwan} kemudian meminta laki-laki tersebut bersumpah bahwa yang dia inginkan hanyalah talak satu. Lalu Marwan menyerahkan wanita tersebut kepada suaminya.” Malik berkata Abdurrahman berkata “Al Qasim sangat menyukai keputusan itu. Dia memandangnya sebagai keputusan yang paling baik.” Malik berkata “Ini adalah pendapat yang paling baik, dan pandapat yang saya pilih.”