Thaharah
Sunan Darimi | Hadits No. : 888
أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يُوسُفَ حَدَّثَنَا الْأَوْزَاعِيُّ قَالَ سَمِعْتُ عَطَاءَ بْنَ أَبِي رَبَاحٍ يَقُولُ تَغْتَسِلُ بَيْنَ كُلِّ صَلَاتَيْنِ غُسْلًا وَاحِدًا وَتَغْتَسِلُ لِلْفَجْرِ غُسْلًا وَاحِدًا قَالَ الْأَوْزَاعِيُّ وَكَانَ الزُّهْرِيُّ وَمَكْحُولٌ يَقُولَانِ تَغْتَسِلُ عِنْدَ كُلِّ صَلَاةٍ
Terjemahan: Telah mengabarkan kepada kami {Muhammad bin Yusuf} telah menceritakan kepada kami {Al ‘Auza’i} ia berkata: “Aku pernah mendengar {‘Atha` bin Rabah} berkata: ‘Hendaknya ia mandi untuk setiap dua kali shalat dengan sekali mandi, dan untuk shalat subuh juga sekali mandi’, Al ‘Auza’i pernah berkata: {‘Az Zuhri} dan {Mak-hul}, keduanya berkata: ‘Ia harus mandi untuk setiap kali hendak shalat’ “.
Sunan Darimi | Hadits No. : 889
أَخْبَرَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ وَوَهْبُ بْنُ جَرِيرٍ عَنْ هِشَامٍ صَاحِبِ الدَّسْتَوَائِيِّ عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيرٍ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ أَنَّ أُمَّ حَبِيبَةَ قَالَ وَهْبٌ أُمَّ حَبِيبَةَ بِنْتَ جَحْشٍ كَانَتْ تُهَرَاقُ الدَّمَ وَأَنَّهَا سَأَلَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ ذَاكَ فَأَمَرَهَا أَنْ تَغْتَسِلَ عِنْدَ كُلِّ صَلَاةٍ وَتُصَلِّيَ
Terjemahan: Telah mengabarkan kepada kami {Yazid bin Harun} dan {Wahab bin Jarir} dari {Hisyam} -pengarang Ad Dastawa`i-, dari {Yahya bin Abu Katsir} dari {Abu Salamah} mengatakan: “Ummu Habibah binti Jahsy radliallahu ‘anha pernah mengeluarkan darah, ia bertanya hal itu kepada Nabi saw., lalu beliau memerintahkannya untuk mandi setiap kali hendak mengerjakan shalat, barulah ia boleh shalat”.
Sunan Darimi | Hadits No. : 890
أَخْبَرَنَا عَبْدُ الصَّمَدِ بْنُ عَبْدِ الْوَارِثِ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ حَدَّثَنَا أَبُو بِشْرٍ قَالَ سَمِعْتُ سَعِيدَ بْنَ جُبَيْرٍ يَقُولُ كَتَبَتْ امْرَأَةٌ إِلَى ابْنِ عَبَّاسٍ وَابْنِ الزُّبَيْرِ إِنِّي أُسْتَحَاضُ فَلَا أَطْهُرُ وَإِنِّي أُذَكِّرُكُمَا اللَّهَ إِلَّا أَفْتَيْتُمَانِي وَإِنِّي سَأَلْتُ عَنْ ذَلِكَ فَقَالُوا كَانَ عَلِيٌّ يَقُولُ تَغْتَسِلُ لِكُلِّ صَلَاةٍ فَقَرَأْتُ وَكَتَبْتُ الْجَوَابَ بِيَدِي مَا أَجِدُ لَهَا إِلَّا مَا قَالَ عَلِيٌّ فَقِيلَ إِنَّ الْكُوفَةَ أَرْضٌ بَارِدَةٌ فَقَالَ لَوْ شَاءَ اللَّهُ لَابْتَلَاهَا بِأَشَدَّ مِنْ ذَلِكَ أَخْبَرَنَا حَجَّاجُ بْنُ مِنْهَالٍ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ عَنْ قَيْسٍ عَنْ مُجَاهِدٍ قَالَ قِيلَ لِابْنِ عَبَّاسٍ إِنَّ أَرْضَهَا أَرْضٌ بَارِدَةٌ فَقَالَ تُؤَخِّرُ الظُّهْرَ وَتُعَجِّلُ الْعَصْرَ وَتَغْتَسِلُ غُسْلًا وَتُؤَخِّرُ الْمَغْرِبَ وَتُعَجِّلُ الْعِشَاءَ وَتَغْتَسِلُ غُسْلًا وَتَغْتَسِلُ لِلْفَجْرِ غُسْلًا
Terjemahan: Telah mengabarkan kepada kami {Abdus Shamad bin Abdul Warits} telah menceritakan kepada kami {Syu’bah} telah menceritakan kepada kami {Abu Bisyr} ia berkata: “Aku pernah mendengar {Sa’id bin Jubair} berkata: ‘Ada {seorang wanita} menulis surat kepada {Ibnu Abbas} dan {Ibnu Az Zubair} radliallahu ‘anhuma, ‘Aku mengalami istihadhah dan tidak segera suci, dan aku ungkapkan hal ini kepada kalian berdua agar kalian memfatwakan kepadaku, sebenarnya aku telah bertanya hal ini, dan mereka menjawab bahwa {Ali} radliallahu ‘anhu berkata: ‘Ia harus mandi untuk setiap kali hendak mengerjakan shalat’, aku membaca dan menulis jawaban itu dengan tulisan tangan’, tidak kudapatkan pendapat lain kecuali seperti apa yang dikatakan oleh Ali radliallahu ‘anhu’. Kemudian diberitakan bahwa kota Kufah itu tanah yang sangat dingin. Ibnu Abbas berkata: ‘Kalau Allah subhanallahu wa ta’ala menghendaki, niscaya Ali akan menyiksa wanita ini dengan yang lebih dari itu’ “. Telah mengabarkan kepada kami {Hajjaj bin Minhal} telah menceritakan kepada kami {Hammad} dari {Qais} dari {Mujahid} ia berkata: “Diberitakan kepada {Ibnu Abbas} radliallahu ‘anhu: ‘Tanahnya adalah tanah yang sangat dingin’, lalu ia berkata: ‘Hendaknya ia mengakhirkan shalat dhuhur dan menyegerakan shalat ashr dengan sekali mandi, ia juga mengakhirkan shalat maghrib dan menyegerakan shalat isya` dengan sekali mandi, dan ia harus mandi untuk shalat subuh’ “.
Sunan Darimi | Hadits No. : 891
أَخْبَرَنَا حَجَّاجٌ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ زَيْنَبَ بِنْتِ أُمِّ سَلَمَةَ أَنَّ ابْنَةَ جَحْشٍ كَانَتْ تَحْتَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ وَكَانَتْ تُسْتَحَاضُ فَكَانَتْ تَخْرُجُ مِنْ مِرْكَنِهَا وَإِنَّهُ لَعَالِيهِ الدَّمُ فَتُصَلِّي
Terjemahan: Telah mengabarkan kepada kami {Hajjaj} telah menceritakan kepada kami {Hammad} dari {Hisyam bin ‘Urwah} dari {ayahnya} dari {Zainab binti Ummu Salamah} Bahwa putri Jahsy saat menjadi isteri Abdur Rahman bin ‘Auf ia pernah mengalami istihadhah, ia pernah keluar dari baskom pemandiannya sedang (warna) darahnya mengungguli (warna airnya), lalu ia tetap mengerjakan shalat”.
Sunan Darimi | Hadits No. : 892
أَخْبَرَنَا وَهْبُ بْنُ سَعِيدٍ الدِّمَشْقِيُّ عَنْ شُعَيْبِ بْنِ إِسْحَقَ حَدَّثَنَا الْأَوْزَاعِيُّ قَالَ سَمِعْتُ الزُّهْرِيَّ وَيَحْيَى بْنَ أَبِي كَثِيرٍ يَقُولَانِ تُفْرِدُ لِكُلِّ صَلَاةٍ اغْتِسَالَةً قَالَ الْأَوْزَاعِيُّ وَبَلَغَنِي عَنْ مَكْحُولٍ مِثْلُ ذَلِكَ
Terjemahan: Telah mengabarkan kepada kami {Wahab bin Sa’id Ad Dimasyqi} dari {Syu’aib bin Ishaq} telah menceritakan kepada kami {Al ‘Auza’i} ia berkata: Aku pernah mendengar {Az Zuhri} dan {Yahya bin Abu Katsir} keduanya berkata: “Dikhususkan untuk setiap shalat sekali mandi”. Al ‘Auza’I berkata: “Dan {telah sampai kabar kepadaku} (riwayat) dari {Mak-hul} dengan redaksi yang sama.”
Sunan Darimi | Hadits No. : 893
أَخْبَرَنَا وَهْبُ بْنُ سَعِيدٍ عَنْ شُعَيْبٍ حَدَّثَنَا الْأَوْزَاعِيُّ أَخْبَرَنِي عَطَاءٌ أَنَّ ابْنَ عَبَّاسٍ كَانَ يَقُولُ لِكُلِّ صَلَاتَيْنِ اغْتِسَالَةٌ وَتُفْرِدُ لِصَلَاةِ الصُّبْحِ اغْتِسَالَةً
Terjemahan: Telah mengabarkan kepada kami {Wahab bin Sa’id} dari {Syu’aib} telah menceritakan kepada kami {Al ‘Auza’i} telah mengabarkan kepadaku {‘Atha`} Bahwa {Ibnu Abbas} radliallahu ‘anhu berkata: “Untuk setiap dua waktu shalat (harus dilakukan dengan) sekali mandi, dan khusus untuk shalat subuh dengan sekali mandi”.
Sunan Darimi | Hadits No. : 894
أَخْبَرَنَا حَجَّاجٌ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ عَنْ حَمَّادٍ الْكُوفِيِّ أَنَّ امْرَأَةً سَأَلَتْ إِبْرَاهِيمَ فَقَالَتْ إِنِّي أُسْتَحَاضُ فَقَالَ عَلَيْكِ بِالْمَاءِ فَانْضَحِيهِ فَإِنَّهُ يَقْطَعُ الدَّمَ عَنْكِ
Terjemahan: Telah mengabarkan kepada kami {Hajjaj} telah menceritakan kepada kami {Hammad} dari {Hammad Al Kufi} Bahwa seorang wanita pernah bertanya kepada {Ibrahim} dengan berkata: ‘aku mengalami istihadhah’, ia berkata: ‘Kamu harus mandi, siramlah badanmu, karena itu menghentikan darah’ “.
Sunan Darimi | Hadits No. : 895
أَخْبَرَنَا عَفَّانُ بْنُ مُسْلِمٍ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ دِينَارٍ حَدَّثَنَا يُونُسُ عَنْ الْحَسَنِ فِي الْمُطَلَّقَةِ الَّتِي ارْتِيبَ بِهَا تَرَبَّصُ سَنَةً فَإِنْ حَاضَتْ وَإِلَّا تَرَبَّصَتْ بَعْدَ انْقِضَاءِ السَّنَةِ ثَلَاثَةَ أَشْهُرٍ فَإِنْ حَاضَتْ وَإِلَّا فَقَدْ انْقَضَتْ عِدَّتُهَا
Terjemahan: Telah mengabarkan kepada kami {‘Affan bin Muslim} telah menceritakan kepada kami {Muhammad bin Dinar} telah menceritakan kepada kami {Yunus} dari {Al Hasan} dalam (masalah) wanita yang di cerai, tetapi diragukan kesuciannya, maka ia menunggu setahun siapa tahu mengalami haid, dan jika belum juga haid, ia menunggu lagi tiga bulan setelah satu tahun siapa tahu mengalami haid, dan jika belum juga haid, masa ‘iddah nya dianggap selesai.
Sunan Darimi | Hadits No. : 896
أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ قَالَ سُئِلَ مَالِكٌ عَنْ عِدَّةِ الْمُسْتَحَاضَةِ إِذَا طُلِّقَتْ فَحَدَّثَنَا مَالِكٌ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ أَنَّهُ قَالَ عِدَّتُهَا سَنَةٌ قَالَ أَبُو مُحَمَّد هُوَ قَوْلُ مَالِكٍ
Terjemahan: Telah mengabarkan kepada kami {Abdullah bin Maslamah} ia berkata: “Malik pernah ditanya tentang ‘iddah wanita yang mengalami istihadhah apabila ia dicerai”, telah menceritakan kepada kami {Malik} dari {Ibnu Syihab} dari {Sa’id bin Al Musayyib} Bahwa ia berkata: “‘Iddah nya satu tahun”. Abu Muhammad berkata: “Itu pendapat Malik’.
Sunan Darimi | Hadits No. : 897
أَخْبَرَنَا أَبُو النُّعْمَانِ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ دِينَارٍ قَالَ سُئِلَ جَابِرُ بْنُ زَيْدٍ عَنْ الْمَرْأَةِ تُطَلَّقُ وَهِيَ شَابَّةٌ فَتَرْتَفِعُ حِيضَتُهَا مِنْ غَيْرِ كِبَرٍ قَالَ مِنْ غَيْرِ حَيْضٍ تَحَيَّضُ وَقَالَ طَاوُسٌ ثَلَاثَةَ أَشْهُرٍ
Terjemahan: Telah mengabarkan kepada kami {Abu An Nu’man} telah menceritakan kepada kami {Hammad bin Zaid} telah menceritakan kepada kami {‘Amr bin Dinar} ia berkata: ” {Jabir bin Zaid} pernah ditanya tentang masa iddah wanita yang dicerai sedang dia masih belia, dan mengalami peningkatan haid sebelum menjadi wanita tua, ia menjawab: ‘masa iddahnya dihitung semenjak masa haidnya berhenti’, {Thawus} berkata: “Masa ‘iddahnya tiga bulan”.