Thaharah

Kembali ke Menu Sebelumnya

Sunan Darimi | Hadits No. : 898

أَخْبَرَنَا نَصْرُ بْنُ عَلِيٍّ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْأَعْلَى عَنْ مَعْمَرٍ عَنْ الزُّهْرِيِّ قَالَ إِذَا طَلَّقَ الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ فَحَاضَتْ حَيْضَةً أَوْ حَيْضَتَيْنِ ثُمَّ ارْتَفَعَتْ حَيْضَتُهَا إِنْ كَانَ ذَلِكَ مِنْ كِبَرٍ اعْتَدَّتْ ثَلَاثَةَ أَشْهُرٍ وَإِنْ كَانَتْ شَابَّةً وَارْتَابَتْ اعْتَدَّتْ سَنَةً بَعْدَ الرِّيبَةِ
Terjemahan: Telah mengabarkan kepada kami {Nashr bin Ali} telah menceritakan kepada kami {Abdul A’la} dari {Ma’mar} dari {Az Zuhri} ia berkata: “Apabila seorang laki-laki mencerai isterinya, kemudian ia mengalami sekali atau dua kali haid, kemudian haidnya terus meningkat, jika hal itu terjadi pada seorang wanita tua, ia menunggu ‘iddah nya selama tiga bulan, dan jika ia adalah wanita belia dan ia ragu, maka ‘iddah nya adalah setahun semenjak masa keraguannya”.

Sunan Darimi | Hadits No. : 899

أَخْبَرَنَا خَلِيفَةُ بْنُ خَيَّاطٍ حَدَّثَنَا غُنْدَرٌ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ عِكْرِمَةَ قَالَ الْمُسْتَحَاضَةُ وَالَّتِي لَا يَسْتَقِيمُ لَهَا حَيْضٌ فَتَحِيضُ فِي شَهْرٍ مَرَّةً وَفِي الشَّهْرِ مَرَّتَيْنِ عِدَّتُهَا ثَلَاثَةُ أَشْهُرٍ
Terjemahan: Telah mengabarkan kepada kami {Khalifah bin Khayyath} telah menceritakan kepada kami {Ghundar} telah menceritakan kepada kami {Syu’bah} dari {Qatadah} dari {‘Ikrimah} ia berkata: “Seorang wanita yang mengalami istihadhah dan wanita yang tidak teratur haidnya, yang terkadang dalam sebulan haidh sekali namun adakalanya dua kali, ‘iddah nya tiga bulan”.

Sunan Darimi | Hadits No. : 900

أَخْبَرَنَا خَلِيفَةُ بْنُ خَيَّاطٍ حَدَّثَنَا أَبُو دَاوُدَ عَنْ هِشَامٍ عَنْ حَمَّادٍ قَالَ تَعْتَدُّ بِالْأَقْرَاءِ
Terjemahan: Telah mengabarkan kepada kami {Khalifah bin Khayyath} telah menceritakan kepada kami {Abu Daud} dari {Hisyam} dari {Hammad} ia berkata: “wanita yang haidnya tidak teratur, harus ber’iddah beberapa quru` (sesuai kebiasaannya berapa lama ia mengalami haid) “.

Sunan Darimi | Hadits No. : 901

حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ مَخْلَدٍ حَدَّثَنَا مَالِكٌ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ قَالَ عِدَّةُ الْمُسْتَحَاضَةِ سَنَةٌ
Terjemahan: Telah menceritakan kepada kami {Khalid bin Makhlad} telah menceritakan kepada kami {Malik} dari {Ibnu Syihab} dari {Sa’id bin Al Musayyib} ia berkata: “‘Iddah wanita yang mengalami istihadhah adalah satu tahun”.

Sunan Darimi | Hadits No. : 902

أَخْبَرَنَا إِسْحَقُ بْنُ عِيسَى أَخْبَرَنَا هُشَيْمٌ عَنْ يُونُسَ عَنْ الْحَسَنِ قَالَ الْمُسْتَحَاضَةُ تَعْتَدُّ بِالْأَقْرَاءِ
Terjemahan: Telah meneritakan kepada kami {Ishaq bin Isa} telah mengabarkan kepada kami {Husyaim} dari {Yunus} dari {Al Hasan} ia berkata: “Wanita yang mengalami istihadhah, ia harus ber’iddah beberapa quru` (sesuai kebiasaan masa haidnya) “.

Sunan Darimi | Hadits No. : 903

أَخْبَرَنَا خَلِيفَةُ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْأَعْلَى عَنْ مَعْمَرٍ عَنْ الزُّهْرِيِّ قَالَ بِالْأَقْرَاءِ قَالَ أَبُو مُحَمَّد أَهْلُ الْحِجَازِ يَقُولُونَ الْأَقْرَاءُ الْأَطْهَارُ وَقَالَ أَهْلُ الْعِرَاقِ هُوَ الْحَيْضُ قَالَ عَبْد اللَّهِ وَأَنَا أَقُولُ هُوَ الْحَيْضُ
Terjemahan: Telah mengabarkan kepada kami {Khalifah} telah menceritakan kepada kami {Abdul A’la} dari {Ma’mar} dari {Az Zuhri} ia berkata: “(Berpedoman) dengan beberapa quru` (berapa lama kebiasaan ia mengalami haid) “. Abu Muhammad berkata: “Kalangan ulama` Hijaz berkata: ‘Yang dimaksud dengan al aqra` adalah kesucian’, sedangkan kalangan ulama`Irak mereka berkata: ‘ia (al aqra`) itu adalah haid’, Abdullah berkata: ‘Aku berpendapat itu haid’ “.

Sunan Darimi | Hadits No. : 904

أَخْبَرَنَا أَبُو النُّعْمَانِ حَدَّثَنَا وُهَيْبٌ حَدَّثَنَا يُونُسُ عَنْ الْحَسَنِ قَالَ الْمُسْتَحَاضَةُ تَعْتَدُّ بِالْأَقْرَاءِ
Terjemahan: Telah mengabarkan kepada kami {Abu An Nu’man} telah menceritakan kepada kami {Wuhaib} telah menceritakan kepada kami {Yunus} dari {Al Hasan} ia berkata: “Wanita yang mengalami istihadhah, ia harus ber’iddah (dihitung) beberapa quru’ (berdasarkan kebiasaan masa haidnya) “.

Sunan Darimi | Hadits No. : 905

حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ خَالِدٍ عَنْ الْهِقْلِ بْنِ زِيَادٍ عَنْ الْأَوْزَاعِيِّ قَالَ سَأَلْتُ الزُّهْرِيَّ عَنْ رَجُلٍ طَلَّقَ امْرَأَتَهُ وَهِيَ شَابَّةٌ تَحِيضُ فَانْقَطَعَ عَنْهَا الْمَحِيضُ حِينَ طَلَّقَهَا فَلَمْ تَرَ دَمًا كَمْ تَعْتَدُّ قَالَ ثَلَاثَةَ أَشْهُرٍ قَالَ وَسَأَلْتُ الزُّهْرِيَّ عَنْ رَجُلٍ طَلَّقَ امْرَأَتَهُ فَحَاضَتْ حَيْضَتَيْنِ ثُمَّ ارْتَفَعَتْ حَيْضَتُهَا كَمْ تَرَبَّصُ قَالَ عِدَّتُهَا سَنَةٌ قَالَ وَسَأَلْتُ الزُّهْرِيَّ عَنْ رَجُلٍ طَلَّقَ امْرَأَتَهُ وَهِيَ تَحِيضُ تَمْكُثُ ثَلَاثَةَ أَشْهُرٍ ثُمَّ تَحِيضُ حَيْضَةً ثُمَّ يَتَأَخَّرُ عَنْهَا الْحَيْضُ ثُمَّ تَمْكُثُ السَّبْعَةَ الْأَشْهُرَ وَالثَّمَانِيَةَ ثُمَّ تَحِيضُ أُخْرَى تَسْتَعْجِلُ إِلَيْهَا مَرَّةً وَتَسْتَأْخِرُ أُخْرَى كَيْفَ تَعْتَدُّ قَالَ إِذَا اخْتَلَفَتْ حِيضَتُهَا عَنْ أَقْرَائِهَا فَعِدَّتُهَا سَنَةٌ قُلْتُ وَكَيْفَ إِنْ كَانَ طَلَّقَ وَهِيَ تَحِيضُ فِي كُلِّ سَنَةٍ مَرَّةً كَمْ تَعْتَدُّ قَالَ إِنْ كَانَتْ تَحِيضُ أَقْرَاؤُهَا مَعْلُومَةٌ هِيَ أَقْرَاؤُهَا فَإِنَّا نُرَى أَنْ تَعْتَدَّ أَقْرَاءَهَا
Terjemahan: Telah menceritakan kepada kami {Musa bin Khalid} dari {Al Hiql bin Ziyad} dari {Al ‘Auza’i} ia berkata: “Aku pernah berkata kepada {Az Zuhri} tentang seorang laki-laki yang mencerai isterinya saat ia masih muda belia, ia mengalami haid lalu haidnya berhenti ketika suaminya menceraikannya, ia tidak lagi melihat darah (keluar dari kemaluannya), lalu berapa lama ia harus ber’iddah?”, ia menjawab: “(‘iddah nya) selama tiga bulan”. Ia bertanya lagi kepada Az Zuhri tentang seorang laki-laki yang menceraikan isterinya sedang ia baru mengalami haid dua kali, lalu haidnya berhenti, berapa lamakah ia harus menunggu?, ia menjawab: “satu tahun”. Ia berkata: “Dan aku pernah bertanya kepada Az Zuhri tentang seorang laki-laki yang menceraikan isterinya sedang ia mengalami haid, lalu ia (isteri) menunggu selama tiga bulan, kemudian mengalami haid sekali lagi, kemudian haidnya terlambat, selanjutnya ia menunggu (tidak mengalami haid) selama tujuh hingga delapan bulan, lalu ia mengalami haid lagi kadang datang lebih cepat dan kadang terlambat, lalu bagaimanakah ‘iddah nya?”, ia menjawab: “Apabila ada perbedaan datangnya haid dengan kebiasaan haid yang dia alami, ‘iddah nya adalah setahun”, aku bertanya lagi: Bagaimana jika ia menceraikan (isterinya) sedang ia mengalami haid sekali dalam satu tahun, berapa lama ‘iddah nya?”, ia menjawab: “Jika masa haid biasanya diketahui lamanya, yang digunakan adalah batasan masa haid yang biasanya, karena kami berpendapat bahwa ia harus ber’iddah sepanjang masa haid yang biasa ia alami”.

Sunan Darimi | Hadits No. : 906

أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُبَارَكِ حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْوَاحِدِ عَنْ الْأَوْزَاعِيِّ قَالَ سَأَلْتُ الزُّهْرِيَّ عَنْ الرَّجُلِ يَبْتَاعُ الْجَارِيَةَ لَمْ تَبْلُغْ الْمَحِيضَ وَلَا تَحْمِلُ مِثْلُهَا بِكَمْ يَسْتَبْرِئُهَا قَالَ بِثَلَاثَةِ أَشْهُرٍ وَقَالَ يَحْيَى بْنُ أَبِي كَثِيرٍ بِخَمْسَةٍ وَأَرْبَعِينَ يَوْمًا
Terjemahan: Telah mengabarkan kepada kami {Muhammad bin Al Mubarak} telah menceritakan kepada kami {‘Umar bin Abdul Wahid} dari {Al ‘Auza’i} ia berkata: “Aku pernah bertanya kepada {Az Zuhri} tentang seorang laki-laki yang membeli seorang budak wanita yang belum mengalami masa haid dan tidak hamil, berapa lamakah ia harus menunggunya (bisa ia gauli)?”, ia menjawab: “Selama tiga bulan”. Dan {Yahya bin Abu Katsir} berkata: “Ia harus menunggunya selama empat puluh lima hari”.

Sunan Darimi | Hadits No. : 907

أَخْبَرَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ عَنْ هِشَامٍ الدَّسْتَوَائِيِّ عَنْ حَمَّادٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ فِي الْمُسْتَحَاضَةِ تَغْتَسِلُ عِنْدَ كُلِّ صَلَاةٍ وَتُصَلِّي وَقَالَ حَمَّادٌ لَوْ أَنَّ مُسْتَحَاضَةً جَهِلَتْ فَتَرَكَتْ الصَّلَاةَ أَشْهُرًا فَإِنَّهَا تَقْضِي تِلْكَ الصَّلَوَاتِ قِيلَ لَهُ وَكَيْفَ تَقْضِيهَا قَالَ تَقْضِيهَا فِي يَوْمٍ وَاحِدٍ إِنْ اسْتَطَاعَتْ قِيلَ لِعَبْدِ اللَّهِ تَقُولُ بِهِ قَالَ إِي وَاللَّهِ
Terjemahan: Telah mengabarkan kepada kami {Yazid bin Harun} dari {Hisyam Ad Dastawa`i} dari {Hammad} dari {Sa’id bin Jubair} dari {Ibnu Abbas} radliallahu ‘anhu, ia pernah berbicara tentang masalah seorang wanita yang mengalami istihadhah: “Ia harus mandi untuk setiap kali hendak shalat, barulah ia boleh shalat”. Hammad pernah berkata: “Kalau (ada) seorang waita yang mengalami istihadhah, tidak tahu (hukumnya) lalu ia meninggalkan shalat beberapa bulan, ia harus mengqadha` shalat (yang telah ia tinggalkan) tersebut”. Kemudian dikatakan kepadanya: ‘Bagaimana ia harus mengqadha`nya (semuanya)? ‘, ia menjawab: ‘Ia harus mengqadha` semuanya dalam satu hari jika ia mampu’, Kemudian dikatakan kepada Abdullah: ‘Apakah kamu juga berpendapat demikian? ‘, ia menjawab: ‘Ya, Demi Allah subhanallahu wa ta’ala’ “.