Tebusan
Muwattha Malik | Hadits No. : 1348
حَدَّثَنِي يَحْيَى عَنْ مَالِك عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ أَنَّهُ كَانَ يَقُولُفِي الشَّفَتَيْنِ الدِّيَةُ كَامِلَةً فَإِذَا قُطِعَتْ السُّفْلَى فَفِيهَا ثُلُثَا الدِّيَةِ
Terjemahan: Telah menceritakan kepadaku Yahya dari Malik dari {Ibnu Syihab} dari {Sa’id bin Musayyab} Bahwasanya ia berkata tentang diyat dua bibir, “Diatnya adalah diyat yang sempurna, jika dipotong bawahnya saja maka membayar sepertiga diyat.
Muwattha Malik | Hadits No. : 1349
حَدَّثَنِي يَحْيَى عَنْ مَالِك أَنَّهُ سَأَلَ ابْنَ شِهَابٍعَنْ الرَّجُلِ الْأَعْوَرِ يَفْقَأُ عَيْنَ الصَّحِيحِ فَقَالَ ابْنُ شِهَابٍ إِنْ أَحَبَّ الصَّحِيحُ أَنْ يَسْتَقِيدَ مِنْهُ فَلَهُ الْقَوَدُ وَإِنْ أَحَبَّ فَلَهُ الدِّيَةُ أَلْفُ دِينَارٍ أَوْ اثْنَا عَشَرَ أَلْفَ دِرْهَمٍ
Terjemahan: Telah menceritakan kepadaku Yahya dari Malik dia bertanya kepada {Ibnu Syihab} tentang seorang laki-laki buta mencongkel mata orang lain. Ibnu Syihab berkata “Jika yang di congkel ingin membalasnya maka itu adalah haknya, jika dia ingin agar dibayar dengan diyat maka diyatnya adalah seribu dinar atau duabelas ribu dirham.”
Muwattha Malik | Hadits No. : 1350
حَدَّثَنِي يَحْيَى عَنْ مَالِك عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ يَسَارٍ أَنَّ زَيْدَ بْنَ ثَابِتٍكَانَ يَقُولُ فِي الْعَيْنِ الْقَائِمَةِ إِذَا طَفِئَتْ مِائَةُ دِينَارٍ
Terjemahan: Telah menceritakan kepadaku Yahya dari Malik dari {Yahya bin Sa’id} dari {Sulaiman bin Yasar} bahwa {Zaid bin Tsabit} berkata tentang mata yang tidak dapat melihat setelah dilukai, “Diyatnya seratus Dinar.”
Muwattha Malik | Hadits No. : 1351
و حَدَّثَنِي يَحْيَى عَنْ مَالِك عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ أَنَّهُ سَمِعَ سُلَيْمَانَ بْنَ يَسَارٍ يَذْكُرُأَنَّ الْمُوضِحَةَ فِي الْوَجْهِ مِثْلُ الْمُوضِحَةِ فِي الرَّأْسِ إِلَّا أَنْ تَعِيبَ الْوَجْهَ فَيُزَادُ فِي عَقْلِهَا مَا بَيْنَهَا وَبَيْنَ عَقْلِ نِصْفِ الْمُوضِحَةِ فِي الرَّأْسِ فَيَكُونُ فِيهَا خَمْسَةٌ وَسَبْعُونَ دِينَارًا
Terjemahan: Telah menceritakan kepadaku Yahya dari Malik dari {Yahya bin Sa’id} Bahwasanya ia telah mendengar {Sulaiman bin Yasar} berkata, “Sesungguhnya Mudlihah pada wajah diatnya sama dengan mudlihah yang ada pada kepala, kecuali jika terlalu parah hingga membuat cela pada wajah maka diatnya ditambah ditambah sekitar setengah diyat pada luka di kepala, sehingga diyatnya menjadi tujuh puluh lima dinar.”
Muwattha Malik | Hadits No. : 1352
وَقَدْ قَالَ ابْنُ شِهَابٍلَيْسَ فِي الْمَأْمُومَةِ قَوَدٌ
Terjemahan: sungguh {Ibnu Syihab} berkata, “Tidak ada balasan pada luka yang dalam.”
Muwattha Malik | Hadits No. : 1353
و حَدَّثَنِي يَحْيَى عَنْ مَالِك عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ أَنَّهُ قَالَكُلُّ نَافِذَةٍ فِي عُضْوٍ مِنْ الْأَعْضَاءِ فَفِيهَا ثُلُثُ عَقْلِ ذَلِكَ الْعُضْوِحَدَّثَنِي مَالِك كَانَ ابْنُ شِهَابٍ لَا يَرَى ذَلِكَ
Terjemahan: Telah menceritakan kepadaku Yahya dari Malik dari {Yahya bin Sa’id} dari {Sa’id bin Musayyab} berkata “Setiap luka yang ada pada anggota badan, maka diatnya adalah sepertiga diat anggota badan tersebut.” Telah menceritakan kepadaku Malik berkata, ” {Ibnu Syihab} tidak berpendapat demikian.”
Muwattha Malik | Hadits No. : 1354
و حَدَّثَنِي يَحْيَى عَنْ مَالِك عَنْ رَبِيعَةَ بْنِ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ الزُّبَيْرِأَقَادَ مِنْ الْمُنَقِّلَةِ
Terjemahan: Telah menceritakan kepadaku Yahya dari Malik dari {Rabi’ah bin Abu Abdurrahman} bahwa {Abdullah bin Az Zubair} membalas luka yang menyebabkan pecahnya tulang.”
Muwattha Malik | Hadits No. : 1355
و حَدَّثَنِي يَحْيَى عَنْ مَالِك عَنْ رَبِيعَةَ بْنِ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّهُ قَالَ سَأَلْتُ سَعِيدَ بْنَ الْمُسَيَّبِكَمْ فِي إِصْبَعِ الْمَرْأَةِ فَقَالَ عَشْرٌ مِنْ الْإِبِلِ فَقُلْتُ كَمْ فِي إِصْبَعَيْنِ قَالَ عِشْرُونَ مِنْ الْإِبِلِ فَقُلْتُ كَمْ فِي ثَلَاثٍ فَقَالَ ثَلَاثُونَ مِنْ الْإِبِلِ فَقُلْتُ كَمْ فِي أَرْبَعٍ قَالَ عِشْرُونَ مِنْ الْإِبِلِ فَقُلْتُ حِينَ عَظُمَ جُرْحُهَا وَاشْتَدَّتْ مُصِيبَتُهَا نَقَصَ عَقْلُهَا فَقَالَ سَعِيدٌ أَعِرَاقِيٌّ أَنْتَ فَقُلْتُ بَلْ عَالِمٌ مُتَثَبِّتٌ أَوْ جَاهِلٌ مُتَعَلِّمٌ فَقَالَ سَعِيدٌ هِيَ السُّنَّةُ يَا ابْنَ أَخِي
Terjemahan: Telah menceritakan kepadaku Yahya dari Malik dari {Rabi’ah bin Abu Abdurrahman} berkata “Aku bertanya kepada {Sa’id bin Musayyab} ‘Berapa diyat untuk jari seorang wanita? ‘ Dia menjawab ‘Sepuluh ekor unta.” Saya bertanya lagi “Berapa untuk dua jari?” dia menjawab “Dua puluh ekor unta.” Saya bertanya lagi “Berapa untuk tiga jari?” dia menjawab “Tiga puluh ekor unta.” Saya bertanya “Berapa untuk empat jari?” dia menjawab “Dua puluh ekor unta?” Aku bertanya “Bagaimana jika semakin besar lukanya dan parah sakitnya, apakah berkurang diyatnya, ” Sa’id bertanya “Apakah kamu orang Iraq?” Aku menjawab “Tidak, tapi aku hanyalah seorang ‘alim yang ingin mencari kepastian dan seorang bodoh yang ingin belajar.” Said berkata “Itu adalah sunnah, Wahai anak saudaraku.”
Muwattha Malik | Hadits No. : 1356
و حَدَّثَنِي يَحْيَى عَنْ مَالِك عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ عَنْ مُسْلِمِ بْنِ جُنْدُبٍ عَنْ أَسْلَمَ مَوْلَى عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِقَضَى فِي الضِّرْسِ بِجَمَلٍ وَفِي التَّرْقُوَةِ بِجَمَلٍ وَفِي الضِّلَعِ بِجَمَلٍ
Terjemahan: Telah menceritakan kepadaku Yahya dari Malik dari {Zaid bin Aslam} dari {Muslim bin Jundub} dari {Aslam} bekas budak Umar bin Khattab, bahwa {Umar bin Khattab} memutuskan untuk diyat gigi geraham dengan seekor unta, diyat tulang selangka dengan seekor unta dan diyat tulang rusuk dengan seekor unta.
Muwattha Malik | Hadits No. : 1357
و حَدَّثَنِي يَحْيَى عَنْ مَالِك عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ أَنَّهُ سَمِعَ سَعِيدَ بْنَ الْمُسَيَّبِ يَقُولُ قَضَى عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِفِي الْأَضْرَاسِ بِبَعِيرٍ بَعِيرٍوَقَضَى مُعَاوِيَةُ بْنُ أَبِي سُفْيَانَ فِي الْأَضْرَاسِ بِخَمْسَةِ أَبْعِرَةٍ خَمْسَةِ أَبْعِرَةٍ قَالَ سَعِيدُ بْنُ الْمُسَيَّبِ فَالدِّيَةُ تَنْقُصُ فِي قَضَاءِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ وَتَزِيدُ فِي قَضَاءِ مُعَاوِيَةَ فَلَوْ كُنْتُ أَنَا لَجَعَلْتُ فِي الْأَضْرَاسِ بَعِيرَيْنِ بَعِيرَيْنِ فَتِلْكَ الدِّيَةُ سَوَاءٌ وَكُلُّ مُجْتَهِدٍ مَأْجُورٌ
Terjemahan: Telah menceritakan kepadaku Yahya dari Malik dari {Yahya bin Sa’id} bahwa ia mendengar {Sa’id bin Musayyab} berkata, ” {Umar bin Khattab} memutuskan dalam perkara diyat gigi geraham dengan seekor unta seekor unta. Sedangkan {Mu’awiyah bin Abu Sufyan} memutuskan dengan lima ekor unta lima ekor unta.” Sa’id bin Musayyab berkata “Diyat berkurang dalam putusan Umar bin Khattab dan bertambah dalam putusan Mu’awiyah, jika aku yang memutuskan maka akan aku jadikan untuk diyat gigi geraham dua ekor unta dua ekor unta. Diyat tersebut adalah sama dan setiap mujtahid akan mendapatkan pahala.”