Thalaq
Sahih Bukhari | Hadits No. : 4908
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ قَزَعَةَ حَدَّثَنَا مَالِكٌ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ الْمِسْوَرِ بْنِ مَخْرَمَةَأَنَّ سُبَيْعَةَ الْأَسْلَمِيَّةَ نُفِسَتْ بَعْدَ وَفَاةِ زَوْجِهَا بِلَيَالٍ فَجَاءَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاسْتَأْذَنَتْهُ أَنْ تَنْكِحَ فَأَذِنَ لَهَا فَنَكَحَتْ
Terjemahan: Telah menceritakan kepada kami {Yahya bin Qaza’ah} Telah menceritakan kepada kami {Malik} dari {Hisyam bin Urwah} dari {bapaknya} dari {Al Miswar bin Makhramah} bahwasanya Subai’ah Al Aslamiyyah melahirkan beberapa hari setelah suaminya wafat, lalu ia pun menemui Nabi saw. dan meminta izin untuk menikah. Maka beliau pun mengizinkannya.
Sahih Bukhari | Hadits No. : 4909
حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ حَدَّثَنَا مَالِكٌ عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ عَنْ الْقَاسِمِ بْنِ مُحَمَّدٍ وَسُلَيْمَانَ بْنِ يَسَارٍ أَنَّهُ سَمِعَهُمَا يَذْكُرَانِأَنَّ يَحْيَى بْنَ سَعِيدِ بْنِ الْعَاصِ طَلَّقَ بِنْتَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ الْحَكَمِ فَانْتَقَلَهَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ فَأَرْسَلَتْ عَائِشَةُ أُمُّ الْمُؤْمِنِيِنَ إِلَى مَرْوَانَ بْنِ الحَكَمِ وَهُوَ أَمِيرُ الْمَدِينَةِ اتَّقِ اللَّهَ وَارْدُدْهَا إِلَى بَيْتِهَا قَالَ مَرْوَانُ فِي حَدِيثِ سُلَيْمَانَ إِنَّ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ الْحَكَمِ غَلَبَنِي وَقَالَ الْقَاسِمُ بْنُ مُحَمَّدٍ أَوَمَا بَلَغَكِ شَأْنُ فَاطِمَةَ بِنْتِ قَيْسٍ قَالَتْ لَا يَضُرُّكَ أَنْ لَا تَذْكُرَ حَدِيثَ فَاطِمَةَ فَقَالَ مَرْوَانُ بْنُ الحَكَمِ إِنْ كَانَ بِكِ شَرٌّ فَحَسْبُكِ مَا بَيْنَ هَذَيْنِ مِنْ الشَّرِّ
Terjemahan: Telah menceritakan kepada kami {Isma’il} Telah menceritakan kepada kami {Malik} dari {Yahya bin Sa’id} dari {Al Qasim bin Muhamamd} dan {Sulaiman bin Yasar} bahwa ia mendengar keduanya menyebutkan bahwa Yahya bin Sa’id bin Al ‘Ash menceraikan anak wanita Abdurrahman bin Al Hakam, lalu Abdurrahman pun memindahkannya. Maka {Aisyah} Ummul Mukminin mengirim surat kepada Marwan bin Al Hakam yang saat itu sebagai Amir Madinah, “Bertakwalah kepada Allah dan kembalikanlah ia ke rumahnya.” Marwan berkata Di dalam hadits Sulaiman disebutkan: “Sesungguhnya Abdurrahman bin Al Hakam telah mengalahkanku.” Al Qasim bin Muhammad berkata, “Tidakkah sampai kepadamu berita tentang Fathimah binti Qais?” Wanita itu berkata, “Tidaklah akan mencelakaimu, kalau kamu tidak menyebutkan hadits Fathimah.” Maka Marwan bin Al Hakam berkata, “Sesungguhnya pada dirimu terdapat keburukan. Karena itu, cukuplah keburukanmu antara dua hal itu.”
Sahih Bukhari | Hadits No. : 4910
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا غُنْدَرٌ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ الْقَاسِمِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّهَا قَالَتْمَا لِفَاطِمَةَ أَلَا تَتَّقِي اللَّهَ يَعْنِي فِي قَوْلِهَا لَا سُكْنَى وَلَا نَفَقَةَ
Terjemahan: Telah menceritakan kepada kami {Muhammad bin Basyar} Telah menceritakan kepada kami {Ghundar} Telah menceritakan kepada kami {Syu’bah} dari {Abdurrahman bin Al Qasim} dari {bapaknya} dari {Aisyah} bahwa ia berkata, “Ada apa dengan Fathimah, tidakkah kamu takut kepada Allah.” Yakni terkait dengan ungkapannya, “Tidak ada tempat tinggal dan tidak pula nafkah.”
Sahih Bukhari | Hadits No. : 4911
حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ عَبَّاسٍ حَدَّثَنَا ابْنُ مَهْدِيٍّ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ الْقَاسِمِ عَنْ أَبِيهِ قَالَ عُرْوَةُ بْنُ الزُّبَيْرِ لِعَائِشَةَأَلَمْ تَرَيْ إِلَى فُلَانَةَ بِنْتِ الْحَكَمِ طَلَّقَهَا زَوْجُهَا الْبَتَّةَ فَخَرَجَتْ فَقَالَتْ بِئْسَ مَا صَنَعَتْ قَالَ أَلَمْ تَسْمَعِي فِي قَوْلِ فَاطِمَةَ قَالَتْ أَمَا إِنَّهُ لَيْسَ لَهَا خَيْرٌ فِي ذِكْرِ هَذَا الْحَدِيثِوَزَادَ ابْنُ أَبِي الزِّنَادِ عَنْ هِشَامٍ عَنْ أَبِيهِ عَابَتْ عَائِشَةُ أَشَدَّ الْعَيْبِ وَقَالَتْ إِنَّ فَاطِمَةَ كَانَتْ فِي مَكَانٍ وَحْشٍ فَخِيفَ عَلَى نَاحِيَتِهَا فَلِذَلِكَ أَرْخَصَ لَهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Terjemahan: Telah menceritakan kepada kami {Amru bin Abbas} Telah menceritakan kepada kami {Ibnu Mahdi} Telah menceritakan kepada kami {Sufyan} dari {Abdurrahman bin Al Qasim} dari {bapaknya} bahwa {Urwah bin Az Zubair} berkata kepada Aisyah, “Tidakkah kamu melihat Fulanah binti Hakam yang telah diceraikan oleh suaminya.” Maka Aisyah pun keluar seraya berkata, “Alangkah buruk apa yang telah diperbuatnya.” Urwah bin Zubair berkata, “Tidakkah Anda mendengar ungkapan Fathimah?” Ia berkata, “Sesungguhnya dalam ungkapan itu tidak ada kebaikan baginya.” {Ibnu Abu Zinad} menambahkan dari {Hisyam}, dari {bapaknya} {Aisyah} mencela dengan celaan yang sangat dan berkata, “Sesungguhnya Fathimah saat itu berada di tempat yang tandus, lalu keberadaannya pun dikhawatirkan. Karena itu, Nabi saw. memberikan rukhshah padanya.”
Sahih Bukhari | Hadits No. : 4912
حَدَّثَنِي حِبَّانُ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ أَخْبَرَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عُرْوَةَ أَنَّ عَائِشَةَأَنْكَرَتْ ذَلِكَ عَلَى فَاطِمَةَ
Terjemahan: Telah menceritakan kepadaku {Hibban} Telah mengabarkan kepada kami {Abdullah} Telah mengabarkan kepada kami {Ibnu Juraij} dari {Ibnu Syihab} dari {Urwah} bahwa {Aiysah} mengingkari hal itu atas Fathimah.
Sahih Bukhari | Hadits No. : 4913
حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ الْحَكَمِ عَنْ إِبْرَاهِيمَ عَنْ الْأَسْوَدِ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْلَمَّا أَرَادَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَنْفِرَ إِذَا صَفِيَّةُ عَلَى بَابِ خِبَائِهَا كَئِيبَةً فَقَالَ لَهَا عَقْرَى أَوْ حَلْقَى إِنَّكِ لَحَابِسَتُنَا أَكُنْتِ أَفَضْتِ يَوْمَ النَّحْرِ قَالَتْ نَعَمْ قَالَ فَانْفِرِي إِذًا
Terjemahan: Telah menceritakan kepada kami {Sulaiman bin Harb} Telah menceritakan kepada kami {Syu’bah} dari {Al Hakam} dari {Ibrahim} dari {Al Aswad} dari {Aisyah} ra., ia berkata Rasulullah saw. hendak nafar (kembali dari Muzdalifah ke Madinah), dan tiba-tiba Shafiyya berdiri di depan pintu tendanya dengan penuh kesedihan. Maka beliau pun bersabda padanya: “Uhh,,, sesungguhnya kamu benar-benar telah menahan kami. Apakah kamu telah melakukan thawaf di hari kurban?” Ia menjawab, “Ya.” Beliau bersabda: “Kalau begitu, maka berangkatlah.”
Sahih Bukhari | Hadits No. : 4914
حَدَّثَنِي مُحَمَّدٌ أَخْبَرَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ حَدَّثَنَا يُونُسُ عَنْ الْحَسَنِ قَالَزَوَّجَ مَعْقِلٌ أُخْتَهُ فَطَلَّقَهَا تَطْلِيقَةً
Terjemahan: Telah menceritakan kepadaku {Muhammad} Telah mengabarkan kepada kami {Abdul Wahhab} Telah menceritakan kepada kami {Yunus} dari {Al Hasan} ia berkata Ma’qil telah menikahkan saudara perempuannya, lalu sang suami menceraikannya dengan talak satu.
Sahih Bukhari | Hadits No. : 4915
و حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا عَبْدُ الْأَعْلَى حَدَّثَنَا سَعِيدٌ عَنْ قَتَادَةَ حَدَّثَنَا الْحَسَنُأَنَّ مَعْقِلَ بْنَ يَسَارٍ كَانَتْ أُخْتُهُ تَحْتَ رَجُلٍ فَطَلَّقَهَا ثُمَّ خَلَّى عَنْهَا حَتَّى انْقَضَتْ عِدَّتُهَا ثُمَّ خَطَبَهَا فَحَمِيَ مَعْقِلٌ مِنْ ذَلِكَ أَنَفًا فَقَالَ خَلَّى عَنْهَا وَهُوَ يَقْدِرُ عَلَيْهَا ثُمَّ يَخْطُبُهَا فَحَالَ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا فَأَنْزَلَ اللَّهُ{ وَإِذَا طَلَّقْتُمْ النِّسَاءَ فَبَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَلَا تَعْضُلُوهُنَّ }إِلَى آخِرِ الْآيَةِ فَدَعَاهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَرَأَ عَلَيْهِ فَتَرَكَ الْحَمِيَّةَ وَاسْتَقَادَ لِأَمْرِ اللَّهِ
Terjemahan: Dan Telah menceritakan kepadaku {Muhammad bin Al Mutsanna} Telah menceritakan kepada kami {Abdul A’la} Telah menceritakan kepada kami {Sa’id} dari {Qatadah} Telah menceritakan kepada kami {Al Hasan} bahwa saudara perempuan Ma’qil bin Yasar berada di bawah seorang laki-laki, lalu laki-laki itu pun menceraikannya dan berpisah dengannya hingga masa iddahnya habis. Kemudian laki-laki itu meminangnya kembali. Maka Ma’qil pun marah dan menolak pinangan itu dan berkata, “Ia menceraikannya padahal ia mampu. Lalu ia mengkhithbahnya kembali.” Akhirnya ia menghalangi ruju’ antara keduanya. Maka Allah menurunkan ayat: “WA IDZAA THALLAQTUMUN NISAA` FABALAGHNA AJALAHUNNA FALAA TA’dhULUUHUNNA..” (QS. Albaqarah 232), hingga akhir ayat. Lalu Rasulullah saw. pun memanggilnya dan membacakan ayat itu kepadanya. Akhirnya ia pun meninggalkan keangkuhannya dan meneriman ketentuan Allah.
Sahih Bukhari | Hadits No. : 4916
حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ نَافِعٍ أَنَّ ابْنَ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَاطَلَّقَ امْرَأَةً لَهُ وَهِيَ حَائِضٌ تَطْلِيقَةً وَاحِدَةً فَأَمَرَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُرَاجِعَهَا ثُمَّ يُمْسِكَهَا حَتَّى تَطْهُرَ ثُمَّ تَحِيضَ عِنْدَهُ حَيْضَةً أُخْرَى ثُمَّ يُمْهِلَهَا حَتَّى تَطْهُرَ مِنْ حَيْضِهَا فَإِنْ أَرَادَ أَنْ يُطَلِّقَهَا فَلْيُطَلِّقْهَا حِينَ تَطْهُرُ مِنْ قَبْلِ أَنْ يُجَامِعَهَا فَتِلْكَ الْعِدَّةُ الَّتِي أَمَرَ اللَّهُ أَنْ تُطَلَّقَ لَهَا النِّسَاءُ وَكَانَ عَبْدُ اللَّهِ إِذَا سُئِلَ عَنْ ذَلِكَ قَالَ لِأَحَدِهِمْ إِنْ كُنْتَ طَلَّقْتَهَا ثَلَاثًا فَقَدْ حَرُمَتْ عَلَيْكَ حَتَّى تَنْكِحَ زَوْجًا غَيْرَكَوَزَادَ فِيهِ غَيْرُهُ عَنْ اللَّيْثِ حَدَّثَنِي نَافِعٌ قَالَ ابْنُ عُمَرَ لَوْ طَلَّقْتَ مَرَّةً أَوْ مَرَّتَيْنِ فَإِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَنِي بِهَذَا
Terjemahan: Telah menceritakan kepada kami {Qutaibah} Telah menceritakan kepada kami {Al Laits} dari {Nafi’} bahwa {Ibnu Umar bin Al Khaththab} ra.ma menceraikan isterinya dalam keadaan haid dengan talak satu. Kemudian Rasulullah saw. memerintahkan agar ia meruju’nya kembali lalu menahannya hingga ia suci, kemudian haid lagi dan menunggunya hingga ia suci kembali dari haidnya. Maka bila ia mau menceraikannya, maka hendaklah ia menceraikannya saat dalam keadaan suci dan sebelum menjima’nya. Itulah Al ‘Iddah yang diperintahkan Allah, agar para wanita diceraikan pada masa itu. Dan apabila Abdullah ditanya tentang hal itu, maka ia kan berkata kepada salah seorang dari mereka, “Jika kamu menceraikannya dengan talak tiga, maka sungguh wanita itu telah diharamkan atasmu hingga ia menikah dengan laki-laki lain selainmu.” Dan selainnya menambahkan Dari Al Laits Telah menceritakan kepadaku Nafi’ Telah berkata Ibnu Umar “Bila kamu menceraikan dengan sekali atau dua kali talak, maka Nabi saw. telah memerintahkanku seperti itu.”
Sahih Bukhari | Hadits No. : 4917
حَدَّثَنَا حَجَّاجٌ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سِيرِينَ حَدَّثَنِي يُونُسُ بْنُ جُبَيْرٍ سَأَلْتُ ابْنَ عُمَرَ فَقَالَطَلَّقَ ابْنُ عُمَرَ امْرَأَتَهُ وَهِيَ حَائِضٌ فَسَأَلَ عُمَرُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَمَرَهُ أَنْ يُرَاجِعَهَا ثُمَّ يُطَلِّقَ مِنْ قُبُلِ عِدَّتِهَا قُلْتُ فَتَعْتَدُّ بِتِلْكَ التَّطْلِيقَةِ قَالَ أَرَأَيْتَ إِنْ عَجَزَ وَاسْتَحْمَقَ
Terjemahan: Telah menceritakan kepada kami {Hajjaj} Telah menceritakan kepada kami {Yazid bin Ibrahim} Telah menceritakan kepada kami {Muhammad bin Sirin} Telah menceritakan kepadaku {Yunus bin Jubair} Aku bertanya kepada {Ibnu Umar}, maka ia pun berkata “Ibnu Umar pernah menceraikan isterinya dalam keadaan haid. Maka Umar pun menanyakannya kepada Nabi saw. Dan akhirnya beliau memerintahkannya agar ia meruju’nya kembali dan menceraikannya di permulaan masa iddahnya.” Aku bertanya, “Apakah ia (isteri Ibnu Umar) menunggu masa iddah dari perceraian itu?” ia menjawab, “Bagaimana pendapatmu, bila ia memang benar-benar bodoh atau pandir (tak tahu)?”