Musnad Penduduk Makkah

Kembali ke Menu Sebelumnya

Musnad Ahmad | Hadits No. : 14801

حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ الرَّبِيعِ بْنِ سَبْرَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ قَالَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُتْرَةُ الرَّجُلِ فِي الصَّلَاةِ السَّهْمُ وَإِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَتِرْ بِسَهْمٍ
Terjemahan: Telah menceritakan kepada kami {Ya’qub bin Ibrahim} telah menceritakan kepada kami {Abdul Malik bin Rabi’ bin Sabrah} dari {Bapaknya} dari {kakeknya} berkata Rasulullah saw. bersabda: “Pembatas laki-laki dalam shalatnya adalah anak panah, jika salah seorang diantara kalian shalat, ambillah anak panah sebagai pembatas.”

Musnad Ahmad | Hadits No. : 14802

قَالَ حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ الرَّبِيعِ بْنِ سَبْرَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِأَنَّهُ قَالَ نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ نُصَلِّيَ فِي أَعْطَانِ الْإِبِلِ وَرَخَّصَ أَنْ نُصَلِّيَ فِي مُرَاحِ الْغَنَمِ وَنَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الْمُتْعَةِ
Terjemahan: Telah menceritakan kepada kami {Ya’qub} telah menceritakan kepada kami {Abdul Malik bin Rabi’ bin Sabrah} dari {Bapaknya} dari {Kakeknya} dia berkata Rasulullah saw. melarang kita shalat di kandang unta dan memberi keringanan untuk Shalat di kandang kambing. Rasulullah saw. juga melarang nikah Mut’ah.

Musnad Ahmad | Hadits No. : 14803

حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ حَدَّثَنَا مَعْمَرٌ عَنِ الزُّهْرِيِّ عَنِ الرَّبِيعِ بْنِ سَبْرَةَ عَنْ أَبِيهِأَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَرَّمَ مُتْعَةَ النِّسَاءِ
Terjemahan: Telah menceritakan kepada kami {Abdurrazzaq} telah menceritakan kepada kami {Ma’mar} dari {Az-Zuhri} dari {Rabi’ bin Sabrah} dari {Bapaknya} Nabi saw. mengharamkan menikahi wanita secara Mut’ah.

Musnad Ahmad | Hadits No. : 14804

حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ حَدَّثَنَا مَعْمَرٌ أَخْبَرَنِي عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ عُمَرَ عَنِ الرَّبِيعِ بْنِ سَبْرَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَخَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ الْمَدِينَةِ فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ حَتَّى إِذَا كُنَّا بِعُسْفَانَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الْعُمْرَةَ قَدْ دَخَلَتْ فِي الْحَجِّ فَقَالَ لَهُ سُرَاقَةُ بْنُ مَالِكٍ أَوْ مَالِكُ بْنُ سُرَاقَةَ شَكَّ عَبْدُ الْعَزِيزِ أَيْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلِّمْنَا تَعْلِيمَ قَوْمٍ كَأَنَّمَا وُلِدُوا الْيَوْمَ عُمْرَتُنَا هَذِهِ لِعَامِنَا هَذَا أَمْ لِلْأَبَدِ قَالَ لَا بَلْ لِلْأَبَدِ فَلَمَّا قَدِمْنَا مَكَّةَ طُفْنَا بِالْبَيْتِ وَبَيْنَ الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ ثُمَّ أَمَرَنَا بِمُتْعَةِ النِّسَاءِ فَرَجَعْنَا إِلَيْهِ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُنَّ قَدْ أَبَيْنَ إِلَّا إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى قَالَ فَافْعَلُوا قَالَ فَخَرَجْتُ أَنَا وَصَاحِبٌ لِي عَلَيَّ بُرْدٌ وَعَلَيْهِ بُرْدٌ فَدَخَلْنَا عَلَى امْرَأَةٍ فَعَرَضْنَا عَلَيْهَا أَنْفُسَنَا فَجَعَلَتْ تَنْظُرُ إِلَى بُرْدِ صَاحِبِي فَتَرَاهُ أَجْوَدَ مِنْ بُرْدِي وَتَنْظُرُ إِلَيَّ فَتَرَانِي أَشَبَّ مِنْهُ فَقَالَتْ بُرْدٌ مَكَانَ بُرْدٍ وَاخْتَارَتْنِي فَتَزَوَّجْتُهَا عَشْرًا بِبُرْدِي فَبِتُّ مَعَهَا تِلْكَ اللَّيْلَةَ فَلَمَّا أَصْبَحْتُ غَدَوْتُ إِلَى الْمَسْجِدِ فَسَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ عَلَى الْمِنْبَرِ يَخْطُبُ يَقُولُ مَنْ كَانَ مِنْكُمْ تَزَوَّجَ امْرَأَةً إِلَى أَجَلٍ فَلْيُعْطِهَا مَا سَمَّى لَهَا وَلَا يَسْتَرْجِعْ مِمَّا أَعْطَاهَا شَيْئًا وَلْيُفَارِقْهَا فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَدْ حَرَّمَهَا عَلَيْكُمْ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ
Terjemahan: Telah menceritakan kepada kami {Abdurrazzaq} telah menceritakan kepada kami {Ma’mar} telah mengabarkan kepadaku {Abdul Aziz bin ‘Umar} dari {Rabi’ bin Sabrah} dari {Bapaknya} berkata Kami berangkat bersama Rasulullah saw. dari Madinah pada Haji Wada’. Ketika kami sampai di ‘Usfan, Rasulullah saw. bersabda: “Umrah telah masuk dalam haji.” Suraqah bin Malik atau Malik bin Suraqah berkata kepada beliau. Abdul Aziz ragu, “Wahai Rasulullah, beritahukan kami, kaum yang seolah-olah mereka baru dilahirkan hari ini. Umrah kita ini hanya khusus untuk tahun ini atau untuk selamanya?. (Rasulullah saw.) bersabda: “Untuk selamanya.” Tatkala kami sampai di Makkah, kami thawaf di Baitullah, shafa dan Marwa, lalu beliau menyuruh menikahi wanita secara mut’ah, lalu kami kembali menemui beliau, dan kami bertanya Wahai Rasulullah, mereka menolak kecuali jika telah ditetapkan waktunya!. (Rasulullah saw.) bersabda: “Lakukanlah.” (Bapak Rabi’ bin Sabrah Radhiyallahu’anhu) berkata saya keluar bersama sahabatku dengan membawa mantel, dia juga membawa mantel, lalu kami menemui seorang wanita, kami tunjukkan diri kami pada mereka. (wanita itu) melihat mantel temanku dan melihat orangnya. Mantelnya lebih baik daripada mantelku. Lalu (wanita itu) melihat ke mantelku lalu melihatku, ternyata lebih muda dari temanku. (wanita itu) berkata mantel adalah tempat mantel. Dia memilihku, lalu saya menikahinya selama sepuluh hari dengan mantelku. Saya bermalam dengannya malam itu. Pada pagi hari, saya pergi ke masjid, saya mendengar Rasulullah saw. sedang berkhutbah di mimbar, “Siapa diantara kalian yang telah menikahi wanita pada jangka waktu tertentu, maka berikanlah maskawinnya dan jangan meminta kembali apa yang diberikan kepadanya, lalu tinggalkanlah, Allah Taa’la telah mengharamkannya sampai Hari Kiamat.”

Musnad Ahmad | Hadits No. : 14805

حَدَّثَنَا عَفَّانُ حَدَّثَنَا وُهَيْبٌ قَالَ حَدَّثَنَا عُمَارَةُ بْنُ غَزِيَّةَ الْأَنْصَارِيُّ قَالَ حَدَّثَنَا الرَّبِيعُ بْنُ سَبْرَةَ الْجُهَنِيُّ عَنْ أَبِيهِ قَالَخَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْفَتْحِ فَأَقَمْنَا خَمْسَ عَشْرَةَ مِنْ بَيْنِ لَيْلَةٍ وَيَوْمٍ قَالَ قَالَ فَأَذِنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمُتْعَةِ قَالَ وَخَرَجْتُ أَنَا وَابْنُ عَمٍّ لِي فِي أَسْفَلِ مَكَّةَ أَوْ قَالَ فِي أَعْلَى مَكَّةَ فَلَقِينَا فَتَاةً مِنْ بَنِي عَامِرِ بْنِ صَعْصَعَةَ كَأَنَّهَا الْبَكْرَةُ الْعَنَطْنَطَةُ قَالَ وَأَنَا قَرِيبٌ مِنْ الدَّمَامَةِ وَعَلَيَّ بُرْدٌ جَدِيدٌ غَضٌّ وَعَلَى ابْنِ عَمِّي بُرْدٌ خَلَقٌ قَالَ فَقُلْنَا لَهَا هَلْ لَكِ أَنْ يَسْتَمْتِعَ مِنْكِ أَحَدُنَا قَالَتْ وَهَلْ يَصْلُحُ ذَلِكَ قَالَ قُلْنَا نَعَمْ قَالَ فَجَعَلَتْ تَنْظُرُ إِلَى ابْنِ عَمِّي فَقُلْتُ لَهَا إِنَّ بُرْدِي هَذَا جَدِيدٌ غَضٌّ وَبُرْدَ ابْنِ عَمِّي هَذَا خَلَقٌ مَحٌّ قَالَتْ بُرْدُ ابْنِ عَمِّكَ هَذَا لَا بَأْسَ بِهِ قَالَ فَاسْتَمْتَعَ مِنْهَا فَلَمْ نَخْرُجْ مِنْ مَكَّةَ حَتَّى حَرَّمَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Terjemahan: Telah menceritakan kepada kami {‘Affan} telah menceritakan kepada kami {Wuhaib} berkata telah menceritakan kepada kami {‘Umaroh bin Ghoziyyah Al Anshori} berkata telah menceritakan kepada kami {Rabi’ bin Sabrah Al Juhani} dari {Bapaknya} berkata Kami berangkat bersama Rasulullah saw. pada Fathu Makkah. Kami tinggal selama lima belas hari dan satu malam. (Rabi’ bin Sabrah Al Juhani Radhiyallahu’anhu) berkata (Bapaknya) berkata Rasulullah saw. mengijinkan nikah Mut’ah. Saya dan anak pamanku keluar ke daerah yang rendah di Makkah atau daerah yang tinggi, lalu kami bertemu seorang wanita muda dari Bani ‘Amir bin Sho’sho’ah, sepertinya dia adalah unta muda yang sangat bagus dan berleher panjang (maksudnya gadis belia yang berperawakan menarik). Saya orang termasuk orang buruk rupa, namun saya memakai mantel baru yang sangat bagus, sedang anak pamanku membawa mantel yang sudah usang. Kami mengatakan kepadanya, maukah kau menikah mut’ah dengan salah satu dari kami? Lalu wanita itu bertanya, apakah hal itu boleh? Ya, jawabku. Lalu dia melihat ke anak pamanku, lalu saya katakan kepadanya, mantelku ini baru dan bagus sedangkan mantel anak pamanku itu sudah usang dan lusuh. (wanita itu) berkata mantel anak pamanmu itu tidak masalah. Lalu (anak pamannya) menikahinya secara mut’ah. Kami tidak berangkat lagi ke Makkah sampai Rasulullah saw. mengharamkannya.

Musnad Ahmad | Hadits No. : 14806

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ قَالَ سَمِعْتُ عَبْدَ رَبِّهِ بْنَ سَعِيدٍ يُحَدِّثُ عَنْ عَبْدِ الْعَزِيزِ بْنِ عُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ عَنِ الرَّبِيعِ بْنِ سَبْرَةَ عَنْ أَبِيهِ يُقَالُ لَهُ السَّبْرِيُّعَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ أَمَرَهُمْ بِالْمُتْعَةِ قَالَ فَخَطَبْتُ أَنَا وَرَجُلٌ امْرَأَةً قَالَ فَلَقِيتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْدَ ثَلَاثٍ فَإِذَا هُوَ يُحَرِّمُهَا أَشَدَّ التَّحْرِيمِ وَيَقُولُ فِيهَا أَشَدَّ الْقَوْلِ وَيَنْهَى عَنْهَا أَشَدَّ النَّهْيِ
Terjemahan: Telah menceritakan kepada kami {Muhammad bin Ja’far} telah menceritakan kepada kami {Syu’bah} berkata saya telah mendengar {‘Abdu rabbihi bin Sa’id} menceritakan dari {Abdul Aziz bin ‘Umar bin Abdul Aziz} dari {Rabi’ bin Sabrah} dari {Bapaknya} yang bernama As-Sabri dari Nabi saw. beliau menyuruh mereka nikah Mut’ah. (Bapak Rabi’) berkata lantas saya dan seorang temanku melamar seorang wanita. Lalu saya bertemu Nabi saw. setelah tiga hari, ternyata beliau telah mengharamkannya dengan sangat, mengatakannya dengan sangat serius dan melarangnya dengan larangan yang keras.

Musnad Ahmad | Hadits No. : 14807

حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ الرَّبِيعِ بْنِ سَبْرَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِأَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى أَنْ يُصَلَّى فِي أَعْطَانِ الْإِبِلِ وَرَخَّصَ أَنْ يُصَلَّى فِي مُرَاحِ الْغَنَمِ
Terjemahan: Telah menceritakan kepada kami {Ya’qub} telah menceritakan kepada kami {Abdul Malik bin Rabi’ bin Sabrah} dari {Bapaknya} dari {kakeknya} Rasulullah saw. melarang Shalat di kandang unta dan memberi keringanan Shalat di kandang kambing.

Musnad Ahmad | Hadits No. : 14808

حَدَّثَنَا يُونُسُ حَدَّثَنَا لَيْثٌ يَعْنِي ابْنَ سَعْدٍ قَالَ حَدَّثَنِي الرَّبِيعُ بْنُ سَبْرَةَ عَنْ أَبِيهِ سَبْرَةَ الْجُهَنِيِّ أَنَّهُ قَالَأَذِنَ لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمُتْعَةِ قَالَ فَانْطَلَقْتُ أَنَا وَرَجُلٌ هُوَ أَكْبَرُ مِنِّي سِنًّا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَقِينَا فَتَاةً مِنْ بَنِي عَامِرٍ كَأَنَّهَا بَكْرَةٌ عَيْطَاءُ فَعَرَضْنَا عَلَيْهَا أَنْفُسَنَا فَقَالَتْ مَا تَبْذُلَانِ قَالَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنَّا رِدَائِي قَالَ وَكَانَ رِدَاءُ صَاحِبِي أَجْوَدَ مِنْ رِدَائِي وَكُنْتُ أَشَبَّ مِنْهُ قَالَتْ فَجَعَلَتْ تَنْظُرُ إِلَى رِدَاءِ صَاحِبِي ثُمَّ قَالَتْ أَنْتَ وَرِدَاؤُكَ تَكْفِينِي قَالَ فَأَقَمْتُ مَعَهَا ثَلَاثًا قَالَ ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ كَانَ عِنْدَهُ مِنْ النِّسَاءِ الَّتِي تَمَتَّعَ بِهِنَّ شَيْءٌ فَلْيُخَلِّ سَبِيلَهَا قَالَ فَفَارَقْتُهَا
Terjemahan: Telah menceritakan kepada kami {Yunus} telah menceritakan kepada kami {Laits} yaitu Ibnu Sa’d berkata telah menceritakan kepadaku {Rabi’ bin Sabrah} dari {Bapaknya, Sabrah Al Juhani} dia berkata Dahulu Rasulullah saw. mengijinkan kami nikah mut’ah. Lalu saya bersama seorang laki-laki yang lebih tua dariku dari sahabat Nabi saw. berangkat dan kami bertemu dengan seorang gadis dari Bani ‘Amir, seolah-olah dia adalah unta yang bagus dan berleher panjang (maksudnya gadis belia dan menawan tubuhnya), lalu kami menawarkan diri kami kepadanya. (wanita itu) berkata apa yang akan kalian persembahkan?. Kami masing-masing mempunyai mantel. mantel sahabatku lebih bagus daripada mantelku, tapi saya lebih muda darinya. (wanita itu) melihat ke mantel sahabatku, lalu berkata ‘Kamu dan mantelmu cukup bagiku.’ (Sabrah Al Juhani Radhiyallahu’anhuma) berkata saya tinggal bersamanya selama tiga hari. Lalu Rasulullah saw. bersabda: “Siapa yang telah memiliki istri dengan cara nikah mut’ah, maka lepaskanlah dia.” Lalu saya meninggalkan dia.

Musnad Ahmad | Hadits No. : 14809

حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنِ الزُّهْرِيِّ عَنِ الرَّبِيعِ بْنِ سَبْرَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَنَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ نِكَاحِ الْمُتْعَةِ
Terjemahan: Telah menceritakan kepada kami {Sufyan bin ‘Uyainah} dari {Az-Zuhri} dari {Rabi’ bin Sabrah} dari {Bapaknya} berkata Rasulullah saw. melarang nikah Mut’ah (menikahi wanita untuk jangka waktu tertentu).

Musnad Ahmad | Hadits No. : 14810

حَدَّثَنَا وَكِيعٌ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ قَالَ أَخْبَرَنِي الرَّبِيعُ بْنُ سَبْرَةَ الْجُهَنِيُّ عَنْ أَبِيهِ قَالَخَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا قَضَيْنَا عُمْرَتَنَا قَالَ لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَمْتِعُوا مِنْ هَذِهِ النِّسَاءِ قَالَ وَالِاسْتِمْتَاعُ عِنْدَنَا يَوْمُ التَّزْوِيجِ قَالَ فَعَرَضْنَا ذَلِكَ عَلَى النِّسَاءِ فَأَبَيْنَ إِلَّا أَنْ يُضْرَبَ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُنَّ أَجَلًا قَالَ فَذَكَرْنَا ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ افْعَلُوا فَانْطَلَقْتُ أَنَا وَابْنُ عَمٍّ لِي وَمَعَهُ بُرْدَةٌ وَمَعِي بُرْدَةٌ وَبُرْدَتُهُ أَجْوَدُ مِنْ بُرْدَتِي وَأَنَا أَشَبُّ مِنْهُ فَأَتَيْنَا امْرَأَةً فَعَرَضْنَا ذَلِكَ عَلَيْهَا فَأَعْجَبَهَا شَبَابِي وَأَعْجَبَهَا بُرْدُ ابْنِ عَمِّي فَقَالَتْ بُرْدٌ كَبُرْدٍ قَالَ فَتَزَوَّجْتُهَا فَكَانَ الْأَجَلُ بَيْنِي وَبَيْنَهَا عَشْرًا قَالَ فَبِتُّ عِنْدَهَا تِلْكَ اللَّيْلَةَ ثُمَّ أَصْبَحْتُ غَادِيًا إِلَى الْمَسْجِدِ فَإِذَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ الْبَابِ وَالْحَجَرِ يَخْطُبُ النَّاسَ يَقُولُ أَلَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ كُنْتُ أَذِنْتُ لَكُمْ فِي الِاسْتِمْتَاعِ مِنْ هَذِهِ النِّسَاءِ أَلَا وَإِنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى قَدْ حَرَّمَ ذَلِكَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ فَمَنْ كَانَ عِنْدَهُ مِنْهُنَّ شَيْءٌ فَلْيُخَلِّ سَبِيلَهَا وَلَا تَأْخُذُوا مِمَّا آتَيْتُمُوهُنَّ شَيْئًا
Terjemahan: Telah menceritakan kepada kami {Waki’} telah menceritakan kepada kami {Abdul Aziz} berkata telah mengabarkan kepadaku {Rabi’ bin Sabrah Al Juhani} dari {Bapaknya} berkata kami keluar bersama Rasulullah saw. Setelah kami melaksanakan Umrah, Rasulullah saw. bersabda kepada kami, “Nikahilah para wanita itu dengan cara mut’ah (nikah dalam jangka waktu tertentu).” (Sabrah Al Juhani Radhiyallahu’anhu) berkata istimta’ menurut kami adalah hari pernikahan. Lalu kami menawarkan hal itu kepada para wanita, namun mereka menolaknya kecuali ditentukan jangka waktunya. Lalu hal ltu kami sampaikan kepada Nabi saw. Beliau bersabda: “Lakukanlah”, lalu saya berangkat bersama dengan anak pamanku dengan membawa mantel, namun mantelnya lebih baik daripada mantelku, hanya saya lebih muda darinya. Kami menemui wanita dan menawarkan diri kami, ternyata dia suka dengan kemudaanku namun dia juga suka dengan mantel temanku. (wanita itu) berkata mantel itu sebagaimana mantel yang lainnya. Lalu saya menikahinya, dengan masa waku sepuluh hari. Saya tinggal bersama dengannya pada malam itu, lalu pada pagi hari saya berangkat ke masjid, ternyata Rasulullah saw. sedang berada di antara pintu dan kamar, beliau berkhutbah dan bersabda: “Ketahuilah wahai manusia, dahulu saya mengijinkan kepada kalian nikah mut’ah. Namun sekarang Allah subhanahu wata’ala telah mengharamkannya sampai Hari Kiamat. Siapa yang telah memilikinya maka lepaskanlah dan jangan kalian ambil apa yang telah kalian berikan kepada mereka sedikitpun.