Musnad Penduduk Syam
Musnad Ahmad | Hadits No. : 16469
حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ حَدَّثَنَا مَعْمَرٌ عَنِ الزُّهْرِيِّ قَالَكُنَّا مَعَ عُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ فَأَخَّرَ صَلَاةَ الْعَصْرِ مَرَّةً فَقَالَ لَهُ عُرْوَةُ بْنُ الزُّبَيْرِ حَدَّثَنِي بَشِيرُ بْنُ أَبِي مَسْعُودٍ الْأَنْصَارِيُّ أَنَّ الْمُغِيرَةَ بْنَ شُعْبَةَ أَخَّرَ الصَّلَاةَ مَرَّةً يَعْنِي الْعَصْرَ فَقَالَ لَهُ أَبُو مَسْعُودٍ أَمَا وَاللَّهِ يَا مُغِيرَةُ لَقَدْ عَلِمْتُ أَنَّ جِبْرِيلَ عَلَيْهِ السَّلَام نَزَلَ فَصَلَّى وَصَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَصَلَّى النَّاسُ مَعَهُ ثُمَّ نَزَلَ فَصَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَصَلَّى النَّاسُ مَعَهُ حَتَّى عَدَّ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فَقَالَ لَهُ عُمَرُ انْظُرْ مَا تَقُولُ يَا عُرْوَةُ أَوَإِنَّ جِبْرِيلَ هُوَ سَنَّ الصَّلَاةَ قَالَ عُرْوَةُ كَذَلِكَ حَدَّثَنِي بَشِيرُ بْنُ أَبِي مَسْعُودٍفَمَا زَالَ عُمَرُ يَتَعَلَّمُ وَقْتَ الصَّلَاةِ بِعَلَامَةٍ حَتَّى فَارَقَ الدُّنْيَا
Terjemahan: Telah menceritakan kepada kami {Abdurrazzaq} Telah menceritakan kepada kami {Ma’mar} dari {Az Zuhri} berkata kami sedang bersama ‘Umar bin Abdul Aziz lalu dia mengakhirkan shalat asar, lalu {Urwah bin Az Zubair} berkata kepadanya, Telah menceritakan kepadaku {Basyir bin Abu Abu Mas’ud Al Anshari} sesungguhnya Al Mughirah bin Syu’bah mengakhirkan shalat satu kali yaitu asar lalu {Abu Mas’ud} berkata kepadanya, “Demi Allah, Wahai Mughirah saya mengetahui sesungguhnya Jibril Alaihissalam telah turun lalu shalat, Rasulullah saw. shalat dan orang-orang shalat bersama beliau. Lalu (Jibril Alaihissalam) turun dan Rasulullah saw. shalat dan orang-orang shalat bersama beliau sampai melakukan shalat lima kali lalu ‘Umar berkata kepadanya, “Apakah yang kau katakan Wahai Urwah, sesungguhnya Jibril yang telah memberi contoh shalat.” ‘Urwah berkata “Demikianlah, Telah menceritakan kepadaku Basyir bin Abu Mas’ud.” maka ‘Umar tetap belajar waktu shalat dengan tanda sampai dia meningggal dunia.
Musnad Ahmad | Hadits No. : 16470
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ قَالَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ مَنْصُورٍ قَالَ سَمِعْتُ رِبْعِيَّ بْنَ حِرَاشٍ يُحَدِّثُ عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ قَالَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلَامِ النُّبُوَّةِ الْأُولَى إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ
Terjemahan: Telah menceritakan kepada kami {Muhammad bin Ja’far} berkata Telah menceritakan kepada kami {Syu’bah} dari {Manshur} berkata saya telah mendengar {Rib’i bin Hirasy} menceritakan dari {Abu Mas’ud} berkata Rasulullah saw. bersabda: “Termasuk hal pertama-tama yang didapatkan manusia dari perkataan kenabian yang pertama adalah, ‘Jika kamu tidak punya malu, maka berbuatlah sesukamu’.”
Musnad Ahmad | Hadits No. : 16471
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ قَالَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ وَحَجَّاجٌ قَالَ أَنْبَأَنَا شُعْبَةُ عَنْ مَنْصُورٍ عَنْ إِبْرَاهِيمَ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ يَزِيدَ قَالَ كُنْتُ أُحَدِّثُ عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ حَدِيثًا فَلَقِيتُهُ وَهُوَ يَطُوفُ بِالْبَيْتِ فَسَأَلْتُهُ فَحَدَّثَعَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ مَنْ قَرَأَ الْآيَتَيْنِ الْآخِرَتَيْنِ مِنْ سُورَةِ الْبَقَرَةِ فِي لَيْلَةٍ كَفَتَاهُ
Terjemahan: Telah menceritakan kepada kami {Muhammad bin Ja’far} berkata Telah menceritakan kepada kami {Syu’bah} dan {Hajjaj} berkata telah memberitakan kepada kami {Syu’bah} dari {Manshur} dari {Ibrahim} dari {Abdurrahman bin Yazid} berkata saya telah menceritakan, dari {Abu Mas’ud} satu hadits lalu saya menemuinya dan dia saat itu sedang thawaf di Ka’bah, lalu saya menanyakan, lalu dia menceritakan dari Nabi saw. sesungguhnya beliau bersabda: “Barangsiapa yang membaca dua ayat dari akhir surat Al Baqarah pada waktu malam, itu telah cukup (untuk melindunginya dari kejahatan yang dibenci).”
Musnad Ahmad | Hadits No. : 16472
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ إِسْمَاعِيلَ بْنِ رَجَاءٍ قَالَ سَمِعْتُ أَوْسَ بْنَ ضَمْعَجٍ يَقُولُ سَمِعْتُ أَبَا مَسْعُودٍ يَقُولُقَالَ لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَؤُمُّ الْقَوْمَ أَقْرَؤُهُمْ لِكِتَابِ اللَّهِ تَعَالَى وَأَقْدَمُهُمْ قِرَاءَةً فَإِنْ كَانَتْ قِرَاءَتُهُمْ سَوَاءً فَلْيَؤُمَّهُمْ أَقْدَمُهُمْ هِجْرَةً فَإِنْ كَانُوا فِي الْهِجْرَةِ سَوَاءً فَلْيَؤُمَّهُمْ أَكْبَرُهُمْ سِنًّا وَلَا يُؤَمَّنَّ الرَّجُلُ فِي أَهْلِهِ وَلَا فِي سُلْطَانِهِ وَلَا يُجْلَسُ عَلَى تَكْرِمَتِهِ فِي بَيْتِهِ إِلَّا أَنْ يَأْذَنَ لَهُ أَوْ بِإِذْنِهِ
Terjemahan: Telah menceritakan kepada kami {Muhammad bin Ja’far} Telah menceritakan kepada kami {Syu’bah} dari {Isma’il bin Raja`} berkata saya telah mendengar {Aus bin Dlam’aj} berkata saya telah mendengar {Abu Mas’ud} berkata Rasulullah saw. bersabda kepada kami, “Orang yang menjadi imam suatu kaum adalah orang yang paling hafal dengan kitab Allah Ta’ala, dan orang yang lebih mula-mula membacanya. Jika bacaannya sama, maka setelahnya adalah yang lebih dulu hijrah. Jika hijrahnya bersamaan adalah lebih tua. Janganlah seseorang menjadi imam dalam keluarga orang lain atau di bawah wewenangnya dan janganlah duduk pada tikar di suatu rumah orang lain kecuali jika diijinkan, ” atau “kecuali dengan seijinnya.”
Musnad Ahmad | Hadits No. : 16473
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ قَالَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ سُلَيْمَانَ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا وَائِلٍ يُحَدِّثُ عَنْ أَبِي مَسْعُودٍأَنَّ رَجُلًا مِنْ قَوْمِهِ يُقَالُ لَهُ أَبُو شُعَيْبٍ صَنَعَ طَعَامًا فَأَرْسَلَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ائْتِنِي أَنْتَ وَخَمْسَةٌ مَعَكَ قَالَ فَبَعَثَ إِلَيْهِ أَنْ ائْذَنْ لِي فِي السَّادِسِ
Terjemahan: Telah menceritakan kepada kami {Muhammad bin Ja’far} berkata Telah menceritakan kepada kami {Syu’bah} dari {Sulaiman} berkata saya telah mendengar {Abu Wa`il} menceritakan dari {Abu Mas’ud} sesungguhnya ada seseorang dari kaumnya yang bernama Abu Syua’ib membuat makanan lalu dikirimkan kepada Nabi saw., “Kontan datanglah kepadaku dan anda adalah orang kelima.” (Abu Mas’ud Radhiyallahu’anhu) berkata “Lalu beliau bersabda agar dia mengijinkan saya (Rasulullah saw.) sebagai orang yang keenam.”
Musnad Ahmad | Hadits No. : 16474
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ سُلَيْمَانَ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا عَمْرٍو الشَّيْبَانِيَّ عَنْ أَبِي مَسْعُودٍأَنَّ رَجُلًا تَصَدَّقَ بِنَاقَةٍ مَخْطُومَةٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَتَأْتِيَنَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِسَبْعِ مِائَةِ نَاقَةٍ مَخْطُومَةٍ
Terjemahan: Telah menceritakan kepada kami {Muhammad bin Ja’far} Telah menceritakan kepada kami {Syu’bah} dari {Sulaiman} berkata saya telah mendengar {Abu ‘Amr Asy Syaibani} dari {Abu Mas’ud} sesungguhnya ada seorang laki-laki yang bersedekah seekor unta yang dituntun di jalan Allah lalu Rasulullah saw. bersabda: “Sungguh kamu akan datang pada Hari Kiamat dengan tujuh puluh unta yang dituntun.”
Musnad Ahmad | Hadits No. : 16475
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ قَالَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ سُلَيْمَانَ عَنْ إِبْرَاهِيمَ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ عَلْقَمَةَ عَنْ أَبِي مَسْعُودٍعَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ قَرَأَ الْآيَتَيْنِ مِنْ الْبَقَرَةِ فِي لَيْلَةٍ كَفَتَاهُقَالَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ فَلَقِيتُ أَبَا مَسْعُودٍ فَحَدَّثَنِي بِهِ
Terjemahan: Telah menceritakan kepada kami {Muhammad bin Ja’far} berkata Telah menceritakan kepada kami {Syu’bah} dari {Sulaiman} dari {Ibrahim} dari {Abdurrahman} dari {Alqamah} dari {Abu Mas’ud} dari Nabi saw. bersabda: “Barangsiapa membaca dua ayat surat Al Baqarah pada waktu malam, maka itu telah cukup (untuk melindunginya dari kejahatan yang dibenci).” {Abdurrahman} berkata “Lalu saya menemui {Abu Mas’ud} dan dia menceritakan kepadaku dengan hadis itu.”
Musnad Ahmad | Hadits No. : 16476
حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ مَنْصُورٍ عَنْ إِبْرَاهِيمَ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ يَزِيدَ عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ الْأَنْصَارِيِّ قَالَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ قَرَأَ الْآيَتَيْنِ مِنْ آخِرِ سُورَةِ الْبَقَرَةِ فِي لَيْلَةٍ كَفَتَاهُ
Terjemahan: Telah menceritakan kepada kami {Jarir} dari {Manshur} dari {Ibrahim} dari {Abdurrahman bin Yazid} dari {Abu Mas’ud Al Anshari} berkata Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa membaca dua ayat dari akhir surat Al Baqarah pada waktu malam, maka itu telah cukup (untuk melindunginya dari kejahatan yang dibenci).”
Musnad Ahmad | Hadits No. : 16477
حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ قَالَ حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ عَنْ إِسْمَاعِيلَ بْنِ رَجَاءٍ عَنْ أَوْسِ بْنِ ضَمْعَجٍ عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ الْأَنْصَارِيِّ قَالَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِيَؤُمَّ الْقَوْمَ أَقْرَؤُهُمْ لِكِتَابِ اللَّهِ تَعَالَى فَإِنْ كَانُوا فِي الْقِرَاءَةِ سَوَاءً فَأَعْلَمُهُمْ بِالسُّنَّةِ فَإِنْ كَانُوا فِي السُّنَّةِ سَوَاءً فَأَقْدَمُهُمْ هِجْرَةً فَإِنْ كَانُوا فِي الْهِجْرَةِ سَوَاءً فَأَكْبَرُهُمْ سِنًّا وَلَا يُؤَمَّنَّ رَجُلٌ فِي سُلْطَانِهِ وَلَا يُجْلَسْ عَلَى تَكْرِمَتِهِ إِلَّا أَنْ يَأْذَنَ
Terjemahan: Telah menceritakan kepada kami {Abu Mu’awiyah} berkata Telah menceritakan kepada kami {Al A’masy} dari {Isma’il bin Raja`} dari {Aus bin Dlam’aj} dari {Abu Mas’ud Al Anshari} berkata Rasulullah saw. bersabda: “Hendaklah yang menjadi iman suatu kaum adalah orang yang paling hafal kitab Allah Ta’ala. Jika mereka bacaannya sama, maka setelahnya adalah yang lebih tahu dengan sunah. Jika dalam sunah sama, maka yang lebih dulu hijrahnya. Jika hijrahnya bersamaan maka yang lebih tua. Janganlah seseorang menjadi imam dalam kekuasaan orang lain dan janganlah duduk pada tikar di suatu rumah orang lain kecuali jika diijinkan.”
Musnad Ahmad | Hadits No. : 16478
حَدَّثَنَا رَوْحٌ قَالَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ وَالثَّوْرِيُّ قَالَا حَدَّثَنَا مَنْصُورٌ عَنْ رِبْعِيِّ بْنِ حِرَاشٍ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا مَسْعُودٍ عُقْبَةَ بْنَ عَمْرٍو الْبَدْرِيَّ يَقُولُقَالَ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلَامِ النُّبُوَّةِ الْأُولَى إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ
Terjemahan: Telah menceritakan kepada kami {Rauh} berkata Telah menceritakan kepada kami {Syu’bah} dan {Tsauri} berkata Telah menceritakan kepada kami {Manshur} dari {Rib’i bin Hirasy} berkata saya telah mendengar {Abu Mas’ud, Uqbah bin ‘Amr Al Badri} berkata Nabiyullah saw. bersabda: “Sesungguhnya yang termasuk pertama-tama didapatkan manusia dari perkataan kenabian pertama adalah, ‘Jika kamu tidak punya malu, berbuatlah sesukamu’.”